INFOKITO.ID,MUARA ENIM – Kondisi pandemi Corona Virus (Covid 19) yang masih terjadi, sangat mempengaruhi kinerja kegiatan hulu minyak dan gas (Migas) di Indonesia. Bagaimana kiprah Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) dan Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) dalam ekplorasi dan produksi migas di Sumsel?.
Legal & Relations CSR Analyst PT Pertamina EP Asset 2 Prabumulih, Imam Maulana menerangkan pandemi covid yang saat ini masih terjadi sangat berpengaruh terhadap kegiatan operasi hulu migas yang dilakukan PT Pertaminan EP Asset 2. Selain itu, PT Pertamina juga mengalami Triplle Shock (Tiga guncangan). “Kondisi Triplle Shock ini tidak bisa dihindari, utamanya di semester pertama 2020. Meski begitu, PT Pertamina EP Asset 2 tetap berkomitmen melakukan produksi migas untuk mengejar target yang sudah ditetapkan perusahaan,” terang Imam melalui saluran telpon (2/11/2020).
Sambung Imam, saat pandemi covid melanda Indonesia beberapa bulan lalu, industri hulu migas salah satu industri yang mendapatkan pengecualian untuk tetap beroperasi dalam mendukung ketahanan energi nasional. “Saat Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) kita masih tetap operasi, karena kegiatan hulu migas masuk pengecualian. Work From Home (WFH) kita hanya sebentar, saat new normal kita kembali operasi masuk kerja seperti bisa,” tutur Imam.
Dalam operasinya, PT Pertamina EP Asset 2 melakukan protokol kesehatan yang ketat terhadap seluruh karyawan, seperti tes swab, menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tanan saat bekerja di kantor dan di lapangan guna menghindari covid.
Imam menerangkan salah satu upaya mengejar targer produksi, PT Pertamina Asset 2 pada Juni lalu sudah dilakukan pengeboran sumur LBK-INF-2 atau LBK-15 di struktur Lembak, Muara Enim. Pengeboran sumur ini dengan kedalaman 1.630 meter measure Depth (mMD), dengan tes produksi sebesar 1.186 Barrel Oil Per Day (BPOD). Kemudian ada juga program Well Intervention pada sumur PMB-33 di Kelurahan Sukaraja, Kota Prabumulih, juga berhasil menambah cadangan sebesar 314,79 BPOD.
Kemudian sambung Imam, PT Pertamina EP Asset 2 untuk meningkatkan prouksi migas di 2020 ini, ada lima sumur yang sedang akan akan dibor hingga akhir 2020. Yaitu sumur TLJ -34 INF sudah masuk tahapan penyelesaian pengeboranm sumur Sopa DZ3 lagi proses pengeboran, sumur Sopa DZ5, sumur Benuang A1 dan sumur MUSI TAF 2 yang masuk dalam agenda akan dibor sampai akhir 2020.
“Untuk produksi PT Pertamina EP Aset 2 yang meliputi Field Pramulih, Field Limau, Field Pendopo dan Field Adera setiap hari jumlahnya berbeda. Namun total kisaran keseluruhan dari empat field yang ada sekitar 23 ribu BPOD,” jelas Imam Maulana.
Bagaimana dengan KKKS yang lain, salah satunya PT Medco E&P. Lead Of Goverment Relations PT Medco E&P Indonesia South Sumatra Region, Yulianto saat dibincangi menerangkan kondisi pandemi covid 19 yang saat ini masih terjadi cukup mempengaruhi kinerja operasional PT Medco dalam melakukan ekplorasi dan produksi migas ditiga lapangan yakni Blok Lematang, Blok Rimau, South Sumatra Block, dengan wilayah kerja ada di Muara Enim, PALI, Lahat, Musi Rawas, Musi Banyuasi, Banyuasin, Ogan Ilir dan Palembang.
“Guna menekan penyebaran covid, karyawan Medco diberlakukan WFH. Untuk karyawan yang ke lapangan, hanya karyawan dianggap penting atau esensial saja, itu pun dengan mematuhi protokol kesehatan yang ketat. Semua wajib jalani tes swab mulai dari office boy hingga manager. Kalau hasilnya bagus, baru boleh ke lapangan,” terang Yulianto saat dibincangi Enim Ekspres.
Masih kata Yulianto, meski secara umum cukup mengganggu kinerja karyawan, PT Medco E&P tetap melakukan operasional melakukan kegiatan hulu migas. Sebab kegiatan hulu migas salah satu sektor industri yang mendapatkan pengecualian untuk tetap bekerja saat pandemi covid terjadi. Hal ini dikarenakan kebutuhan migas bagi Indonesia sangat penting guna mendukung ketahanan energi. “Jadi meski pandemi covid, kita tetap rutin melakukan eksplorasi migas di stasiun-stasiun. Produksi Medco tetap jalan, walaupun dengan pembatasan karyawan,” papar Yulianto.
Berapa target produksi migas PT Medco E&P di Sumsel untuk 2020? “Untuk data produksi kami tidak bisa menyampaikan, harus ada persetujuan dari SKK Migas. Namun yang pasti Medco tetap melakukan kegiatan hulu migas meski saat ini kondisi pandemi,” ujar Yulianto.
Terpisah, saat dihubungi Kepala Departemen Humas Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) Sumbagsel, Andi Arie Pangeran saat dihubungi menjelaskan mengakui pandemi covid 19 cukup mempengaruhi kegiatan hulu migas di Sumsel. Sejak mewabahnya pandemi covid semua lini usaha merasakan dampaknya, termasuk bagi kegiatan hulu migas. Banyak hal yang dihadapi selama adanya pandemi ini, salah satunya ialah melemahnya harga minyak dunia sejak Maret lalu. Tentunya hal ini dipengaruhi atas turunnya permintaan di pasar, seiring dengan berkurangnya kegiatan-kegiatan perekonomian akibat pandemi yang terjadi.
“Tidak hanya itu kegiatan operasional kami di lapangan pun juga terdampak. Terkait personel, mobilisasi pekerja ke lokasi lebih membutuhkan proses untuk memenuhi protokol kesehatan, baik yang diterapkan oleh masing-masing KKKS ataupun sesuai kebutuhan di masing-masing daerah berdasarkan kebijakan pemerintah daerah setempat,” tutur Andi.
Andi menerangkan ada beberapa penyesuaian jangka waktu kerja untuk memenuhi protokol kesehatan, keterbatasan jumlah personel yang diperbolehkan berada di lokasi proyek. Hal yang sama juga berpengaruh pada transportasi material yang membutuhkan waktu. Khususnya pengiriman material dari luar negeri yang dapat berpengaruh pula pada pemenuhan kebutuhan peralatan migas dan untuk proyek. Inspeksi kinerja peralatan/fasilitas membutuhkan waktu yang lebih lama karena penerapan WFH.
Kemudian persetujuan pengurusan perizinan dapat memakan waktu juga lebih lama dibandingkan dengan kondisi normal. Hal-hal ini menjadi bagian dari dampak pandemi covid yang dirasakan oleh kegiatan hulu migas. “Tapi, sejalan dengan penerapan adaptasi kebiasaan baru. Semuanya berjalan semakin lancar dari waktu ke waktu untuk memastikan kegiatan yang tetap harus berjalan. Untuk menjaga ketahanan energi nasional, yang tentunya mengedepankan protokol kesehatan,” kata Andi lagi.
Bagaimana dengan adabya tripple shock, apakah hanya dialami Pertamina saja atau KKKS yang lain juga? Andi menguraikan mengenai triple shock tentu saja dirasakan semua pelaku industri hulu migas. Tidak hanya Pertamina EP, namun semua KKKS yang dikelola oleh SKK Migas, sebab triple shock ini merupakan kondisi yang bersifat global.
Andi Arie Pangeran menyebutkan saat ini kondisi sudah jauh membaik dibandingkan beberapa bulan kebelakang. Mulai dari nilai tukar dolar yang sudah perlahan menurun, harga minyak yang sudah perlahan meningkat dan wabah Covid-19 ini masih menjadi momok di dunia. “Mungkin ini bisa menjadi harapan kita bersama, mudah-mudahan kondisi kedepan semakin membaik. Sehingga triple shock ini dapat benar-benar berakhir,” harap Andi.
Bagaimana dengan kontribusi produksi migas pada 2020 dari Sumsel dan sumbagsel dari produksi nasional? “Untuk kontribusi produksi migas pada 2020 dari Sumbagsel adalah sebesar kurang lebih 10 persen untuk minyak dan kurang lebih 33 persen untuk gas terhadap produksi migas nasional terhitung hingga bulan September 2020. Produksi ini dari hasil kegiatan 13 KKKS Sumsel dan 6 KKKS Jambi,” urai Andi.
Masih kata Andi, selama pandemi covid diakuinya ada perubahan target produksi migas, terlebih dengan kondisi anjloknya harga minyak pada Maret lalu. Mengutip dari informasi yang disampaikan Kepala SKK Migas pada April lalu bahwa SKK Migas melakukan revisi target produksi migas pada tahun ini. Hal ini dilakukan menyusul anjloknya harga minyak dunia dan dibarengi dengan wabah covid-19.
“Untuk produksi minyak, target turun sebesar 10 ribu barel per hari (bph) dari semula 735 ribu bph menjadi 725 ribu bph. Target tersebut adalah target teknis yang disepakati dalam Work Plan and Budget (WPNB) berdasarkan kemampuan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS), sementara target APBN adalah 755 ribu bph,” ucap Andi.
“Untuk produksi gas, target juga turun menjadi 5.727 juta kaki kubik per hari (MMSCFD) dari target WPNB sebesar 5.959 MMSCFD. Sementara target APBN adalah sebesar 6.670 MMSCFD,” tambah Andi.
Andi berpesan kepada KKKS dalam melakukan kegiatan hulu migas di tengah pandemi covid untuk tetap mematuhi protokol kesehatan yang dianjurkan pemerintah yakni 3M, menjaga jarak, memakai masker dan mencuci tangan. Namun demikian pihaknya juga menerapkan beberapa protokol lainnya terutama dalam hal mobilisasi pekerja di lapangan. Diantaranya adalah mewajibkan seluruh pekerja melakukan rapid test atau bahkan swab test sebelum memasuki wilayah operasi, melakukan karantina bagi pekerja crew change sebelum masuk on duty dengan tata waktu tertentu dan setelahnya. Serta mewajibkan agar semua pelaku industri hulu migas untuk menghindari kegiatan yang bersifat komunal.
Andi Aries Pangeran mengakui pandemi covid ini tidak bisa dihindari termasuk oleh kegiatan hulu migas. Oleh karenanya meski menghadapi kondisi sulit saat ini, SKK Migas bersama dengan Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) melakukan berbagai upaya untuk mencari dan menjaga produksi migas di tengah pandemi. SKK Migas juga masih memiliki komitmen dan visi yang sama dengan pemerintah yaitu persiapan dalam jangka panjang menuju produksi satu juta bopd.
“Saat ini ada empat strategi yang disiapkan oleh SKK Migas, yakni mengoptimalkan base production, transformasi resource to production, enhanced oil recovery (EOR), dan eksplorasi,” pungkas Andi Arie Pangeran.(dang)





