Harimau Sumatera Masuk Perangkap Diberinama Enim

 

INFOKITO.ID,LAMPUNGHarimau Sumatera yang tertangkap masuk perangkap di Desa Pelakat, Kecamatan SDU, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan  pada 21 Januari, sudah mulai menjalani rehabilitasi di Lampung. Si Raja Hutan itu menjalani pemeriksaan kesehatan dan rehabilitasi di Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Dusun Pengekah­an, Waiharu, Kecamatan Bengkunat, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung. Kini harimau ganas tersebut diberi nama Enim.

Direktur Utama TWNC Hana Lilies mengatakan, TWNC dengan senang hati menerima dan merawat harimau dewasa tersebut. Menurutnya, TWNC peduli dengan kelangsungan hidup dan populasi harimau Sumatera.

“Kami sangat peduli terhadap populasi harimau sumatera, sehingga penyelamatan harimau pasti kami mau dan ini merupakan amanah yang sangat besar yang kami harus jaga dan harus lakukan sebaik mungkin, tidak boleh gagal,” kata Hana di kawasan konservasi TWNC di Pesisir Barat kepada media, (24/1/2020).

Seperti diketahui dalam jangka waktu November-Desember 2019, ada lima orang yang tewas di wilayah Pagaralam, Lahat dan Muara Enim setelah berkonflik dengan harimau. Menurut Hana, konflik antara satwa liar dengan manusia sering kali terjadi karena daerah jelajah dan habitat mereka terganggu akibat penebangan liar dan pembukaan lahan. Oleh karena itu, pemulihan dan pelestarian hutan habitat satwa liar sangat penting dalam upaya mencegah konflik manusia dengan satwa liar.

“Dengan menjaga lingkungan, memahami keberadaan harimau, menjaga kelestarian, dan tidak mengganggu wilayahnya. Cara ini membuat harimau tidak mungkin akan masuk lagi ke permukiman dan berujung menyerang manusia,” katanya.

“Untuk masa observasi tidak bisa dilakukan dengan cepat. Bisa satu minggu, bisa satu bulan, bisa satu tahun. Semua perilaku harimau harus dipelajari dengan baik, sampai kondisi harimau sudah memungkinkan untuk diamati,” terang Hanna.

Di TWNC harimau sumatra tersebut menempati kandang berukuran 15 x 15 meter yang ditempatkan di pusat rescue TWNC. Sebelumnya, spesies harimau yang memiliki kulit paling gelap dari semua jenis harimau itu, sempat susah untuk dikeluarkan dari kandang yang mengangkutnya saat dievakuasi dari Muara Enim ke Lampung hingga diterbangkan dengan pesawat ke TWNC.

Dibutuhkan waktu sekitar dua jam agar karnivora yang memiliki nama latin Panthera Tigris Sumatrae itu mau keluar dari kandang. Selanjutnya, di kandang barunya di TWNC, harimau tersebut akan menjalani masa rehabilitasi.

“Yah, beginilah dinamika mengu­rus harimau,” kata Tomy Winata, pemilik sekaligus pengelola area TWNC yang hari itu ikut menyaksikan diterimanya harimau sumatra itu di area konservasi Tambling.

Untuk sementara, tim medis TWNC memberinya nama Si Enim karena tertangkap di daerah Muara Enim. Di tempat barunya, Si Enim tidak banyak melakukan aktivitas selain tidur.

Santapan lezat berupa seekor babi pun tak disentuh. Bahkan, harimau tersebut tidur berdamping­an dengan babi yang disiapkan sebagai makanannya.

“Hasil obervasi sementara, dia tampak stres berat. Napasnya sangat cepat ketimbang biasanya. Bisa karena perjalanan dan ada sedikit luka pada bagian ekor. Sementara waktu kita diamkan dulu, belum bisa kita ambil tindakan apa pun,” kata Ketua Tim Dokter TWNC Sadmoko Kusumo yang menangani Si Enim.

Di TWNC, kata Sadmoko, mereka memiliki prosedur ketika menerima harimau baru. “Tindakan paling awal ialah observasi fisik, general chek up seperti manusia untuk mengetahui dia sehat atau tidak, mengambil darah, periksa feses, lalu kita lihat perilakunya dan melihat insting liarnya masih ada apa enggak,” jelasnya.

Selain itu, tim medis juga mengamati cara harimau itu makan, yaitu apakah incar tengkuk atau menyerang dari depan, bagaimana ketika bertemu manusia, serta kondisi fisik badan. Langkah itu sebagai bahan awal untuk treatment selanjutnya.

Peneliti Senior Bagian Konservasi TWNC Ardi Bayu Firmansyah menambahkan, TWNC menerapkan standar konservasi yang tinggi. Apalagi, di tengah kondisi makin berkurangnya populasi harimau sumatra yang jika merujuk pada angka terbaru dari ­Kementerian Lingkungan Hidup, hanya tersisa 603 ekor pada 2019.

“Upaya kita ialah menyelamatkan dan tidak bisa asal-asalan. Jika ekosistemnya kita jaga, rantai makanannya pun ikut terjaga,” tutur Ardi.(lul/net)

 

 

 

Pos terkait