Tafsir Shiratal Mustaqim: Apa Jalan Lurus Itu?

Menurut Imam Abu Ja’far ibnu Jarir semua kalangan ahli tafsir telah sepakat bahwa yang dimaksud dengan shiratal mustaqim ialah “jalan yang jelas lagi tidak berbelok-belok (lurus)”. Namun ketika bicara secara konkrit apa yg dimaksud, Tafsir at-Thabari kemudian menampilkan sejumlah riwayat berbeda untuk mengurai makna konkrit shiratal mustaqim:

 

  1. Kitabullah (Al-Qur’an), 2. Islam 3. Thariq (jalan). 4. Nabi Muhammad, Abu Bakar dan Umar bin Khattab

Sekarang kita tahu paling tidak ada empat makna yang berbeda. Namun, Tafsir a-Razi punya pandangan tersendiri:

 

Sebagian ahli tafsir berpendapat bahwa shiratal mustaqim itu Islam atau ada juga yang bilang itu al-Qur’an (lihat kutipan Tafsir at-Thabari di atas). Menurut Imam ar-Razi, pandangan Ini tidak benar, karena ayat selanjutnya (ayat 7) shiratalladzina an’amta ‘alaihim secara nahwu (gramatika Arab) adalah badal atau pengganti yang memperjelas makna shiratal mustaqim di ayat 6.

 

Ini menunjukkan ayat ihdinas shiratal mustaqim itu berkenaan dengan orang-orang terdahulu (yang telah diberi nikmat), dan orang-orang terdahulu itu tidak memiliki Islam dan Qur’an. Ketika kemungkinan pemahaman di atas dihilangkan, maka makna yang lebih pas adalah: tunjuki kami ke jalan orang-orang yang benar dan berhak mendapatkan surga.

 

Pendapat Imam ar-Razi kelihatannya diikuti oleh Tafsir al-Maraghi, tapi bukan berarti pendapat yang dikutip Tafsir at-Thabari dibuang semuanya. Syekh Mustafa al-Maraghi mencoba menjembataninya:

Kita telah diperintah untuk mengikuti jalan orang-orang sebelum kita (ini seperti diungkap oleh Tafsir ar-Razi), karena agama Allah itu satu di setiap jaman, yaitu iman kepada Allah dan Rasul-Nya, dan hari akhir, dan berakhlak dengan akhlak utama dan amal yang baik serta meninggalkan kejelekan. Selain dari itu adalah perkara cabang dan hukum yang berbeda sesuai dengan perbedaan zaman dan tempat. Di sini, al-Maraghi tidak menolak pandangan bahwa shiratal mustaqim yang dimaksud adalah agama Allah yang intinya satu, dengan pokok ajaran yang sama, meski berbeda tempat dan waktunya.

 

Tafsir al-Qurtubi menyebutkan pendapat lain selain yang sudah disebutkan di atas, yaitu:

Pertama, disebutkan pendapat Fudhail bin ‘Iyad bahwa shiratal mustaqim itu maksudnya jalan menuju ibadah haji. Kata Imam al-Qurthubi, ini makna khusus, sedangkan makna umum lebih baik. Beliau terus mengutip keterangan dari Muhammad bin al-Hanafiyah bahwa yang dimaksud itu adalah agama Allah. Sedangkan kutipan berikutnya sama dengan yang ada di Tafsir at-Thabari di atas, yaitu makna shiratal mustaqim adalah Rasulullah dan kedua sahabatnya.

 

Ungkapan Imam al-Qurthubi bahwa makna umum dari shiratal mustaqim lebih baik, boleh jadi dipenuhi oleh Syekh Wahbah az-Zuhaili dalam Tafsir al-Munir:

Ini jalan yang moderat/tengah. Jalan Islam yang diutus dengan para Nabi dan Rasul, dan ditutup dengan khataman nabiyyin (Nabi Muhammad SAW). Dan ini adalah keseluruhan dari apa yang dapat membawa kepada kebahagiaan di dunia dan akherat, baik dari sisi aqidah, hukum, adab, dan tasyri’ diniy seperti ilmu yang benar tebtang Allah, kenabian dan hal-ihwal kemasyarakatan.

 

Tafsir Ibn Katsir memberikan kesimpulan yang bagus dari diskusi dan perbedaan pendapat para ulama di atas:

 

“Semua pendapat di atas adalah benar, satu sama lainnya saling memperkuat, karena barang siapa mengikuti Nabi Saw. dan kedua sahabat yang sesudahnya (yaitu Abu Bakar dan Umar), berarti dia mengikuti jalan yang haq (benar); dan barang siapa yang mengikuti jalan yang benar, berarti dia mengikuti jalan Islam. Barang siapa mengikuti jalan Islam, berarti mengikuti Al-Qur’an, yaitu Kitabullah atau tali Allah yang kuat atau jalan yang lurus. Semua definisi yang telah dikemukakan di atas benar, masing-masing membenarkan yang lainnya.”

 

Terakhir M. Abu Zahrah dalam kitab tafsirnya Zaharatut Tafasir mengingatkan kita semua bahwa doa itu intinya ibadah. Beliau mengutip sebuah riwayat, “Tidak ada sesuatu yang lebih mulia di sisi Allah dibandingkan doa”. (HR Tirmidzi, Ibn Majah dan Ahmad).

Ini artinya, kawan-kawan sekalian, doa yang dilakukan pada amalan utama seperti shalat, dan redaksi doanya telah diajarkan langsung oleh Allah pada surat yang utama (al-Fatihah), dan kita baca setiap hari minimal 17 kali (saat shalat fardhu) tentu merupakan sesuatu yang sangat penting.

 

Ihdinas shiratal mustaqim (tunjukilah kami jalan yang lurus).

 

Next time, saat kita mengucapkan doa ini, resapilah semua makna doa ini sebagaimana yang telah dijelaskan kandungannya oleh para ulama di atas. Menggetarkan! (Nadirsyah Hosen, Rais Syuriyah PCI Nahdlatul Ulama Australia-New Zealand dan Dosen Senior Monash Law School)

 

Pos terkait