INFOKITO.ID,MUARA ENIM_- Industri hulu migas, salah satu industri yang mendapatkan pengecualian untuk terus beroperasi disaat pandemi Covid-19. Hal ini bertujuan untuk menjaga ketahanan energi nasional, seperti yang dilakukan PT Medco E&P. Demi mencari migas, karyawan harus mengikuti Protokol Kesehatan (Prokes) secara ketat sebelum ke lapangan atau area operasi.
“PT Medco ikut mendukung ketersediaan energi nasional. Industri Indonesia tidak bisa berkembang kalau tidak ada energi. Oleh karenanya untuk menjaga ketahanan energi, PT Medco tetap beroperasi mencari migas meskipun saat pandemi covid. Kita tetap produksi, guna mengejar target yang sudah ditetapkan SKK Migas guna menyokong energi nasional, ” terang General Manager South Sumatera Medco E&P Indonesia, M Zulkifli kepada para wartawan saat webinar media gathering dan kompetisi jurnalistik Medco E&P South Sumatra Region, Senin (14/12/2020), dengan tema “Komitmen Menjaga Ketahanan Energi Saat Pandemi”.
“Karyawan PT Medco tetap ke lapangan, itupun dengan pembatasan jumlah yang bertugas. Terpenting mengikuti Protokol Kesehatan (Prokes) secara ketat,” tambah Zulkifli.
Zulkifli menerangkan sebelum bertugas ke lapangan harus test swabt, setelah bertugas harus isolasi di rumah. Setelah, aman baru kembali lagi ke lapangan. “Tenaga lapangan digilir, semua pekerja miliki waktu yang cukup untuk isolasi dan memastikan diri tetap fit untuk kembali bekerja,” urai Zulkifli.
“Kita benar-benar melindungi karyawan, kalau sampai ada yang terkena covid, bisa mempengaruhi operasi migas di lapangan. Harapan kita jangan sampai terjadi. Operasional Medco mencari migas tetap berjalan lancar walaupun di tengah pandemi covid,” tutur Zulkifli.
Sementara itu, Kepala Perwakilan SKK Migas Sumbagsel Adianto Agus Handoyo menerangkan bahwa menjaga ketahanan energi disaat pandemi covid tidaklah mudah. Terlebih lagi dalam menjaga produksi migas nasional jangka panjang. “Sekarang ini Indonesia masih defisit kebutuhan energi. Kontribusi Migas hanya 17 persen untuk Anggaran Pendapatan Belanja Negara (APBN). Tapi disisi lain, kegiatan hulu migas di Indonesia memiliki efek berganda untuk masyarakat dan daerah. Serta industri migas tetap menjadi penggerak ekonomi Indonesia,” papar Adianto.
Adianto menjelaskan Indonesia saat ini berada di nomor 27 di dunia atau hanya memiliki 0,2 persen cadangan minyak dunia. Sementara untuk gas berada diurut 13 dunia atau memiliki 1,4 persen cadangan produksi gas dunia. “Negara-negara eropa timur seperti Iran, Venezuela memiliki cadangan gas yang cukup besar,” tukas Adianto.
Sambung Adianto, pada 2020 Indonesia memiliki 128 cekungan atau wilayah kerja yang sudah berproduksi. Untuk yang eksplorasi ada 27 cekungan. Belum ada penemuan masih 13 cekungan. Kemudian 68 cekungan belum dilakukan eksplorasi (belum dibor). “Saat ini untuk industri hulu migas, total aset ada 841 triliun, dengan 750 ribu km persegi yang sudah dikelola,” papar Adianto.
Sementara itu sambung Adianto, produksi minyak bumi Indonesia 2019 adalah 772.00 Barel/hari (BPOD). Sementara kontribusi minyak dari wilayah kerja KKKS Sumbagsel 2019 adalah 74.000 BPOD atau rata-rata 10 persen produksi harian nasional.
Kedepan guna mendukung ketahanan energi nasional kedepan bisa melakukan eksplorasi wilayah-wilayah baru. Pada 2020 ini ada lima proyek migas strategi nasional. Jika pada 2021 dapat dikembangkan, bisa sangat menopang migas Indonesia. “Nilai investasi dari lima proyek strategi nasional ini 37,21 Milliar Dollar, dengan total tambahan produksi 65.000 BPOD dan 3.484 MMSCFD. Guna menuju produksi 1 juta BPOD per hari pada 2030 mendatang,” pungkas Adianto.(dang)





