Panas Bumi Energi Berkelanjutan untuk Indonesia

INFOKITO.ID,MUARA ENIM—Kabupaten Muara Enim kaya akan Sumber Daya Alam (SDA) salah satunya, memiliki potensi energi panas bumi (Geothermal) yang merupakan energi terbarukan untuk menopang kebutuhan energi nasional.  PT Pertamina Persero (Tbk) melalui anak usahanya, PT Pertamina Geothermal Energy (PGE), sudah menggarap panas bumi di Desa Penindaian, Kecamatan Semende Darat Laut, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan sejak  2008 lalu. Dengan membangun Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP) dikawasan tersebut, yang akan menjadi penyuplai litrik di kawasan Sumatera Selatan dan Indonesia.

Energi panas bumi yang dilakukan oleh PT PGE di Lumut Balai ini sejalan dengan langkah besar PT Pertamina (Persero) dalam rangka menuju pengelolaan energi yang memenuhi ketersediaan (Availability), keterjangkauan (Accessibility), daya beli (Affordibility), ramah lingkungan (Acceptability), dan keberlanjutan (Sustainability).

Saat ini,  PT PGE sudah menyiapkan PLTP Lumut Balai Unit I yang disiapkan untuk segera beroperasi komersial (commercial on date/COD), dengan kapasitas 1×55 MW.  Rencana operasi komersial PLTP Lumut Balai I sudah diagendakan sejak akhir 2018. Namun molor sampai 2019, juga dua kali diagendakan pengoperasian di Juli dan September, namun hingga sekarang belum ada kejelasan secara pasti  kapan PLTP Lumut Balai I dioperasikan oleh PT PGE.

Bahkan saat diagendakan untuk peresmian secara komersil di September. Pada 19 Agustus lalu, Bupati Muara Enim H Ahmad Yani, Wakil Bupati H Juarsah dan pejabat FKPD melakukan kunjungan ke PGE Lumut Balai. “PLTP ini mengandalkan energi panas bumi (Geothermal) terbarukan, yang mungkin tidak akan habis sepanjang masa. Pemerintah daerah sangat mendukung pengelolaan energi panas bumi ini,” kata Ahmad Yani pada kesempatan itu.

Jika PLTP Lumut Balai Unit I sudah beroperasi dengan menghasilkan energi listrik, untuk mendukung kebutuhan listrik di Sumatera Selatan dan Indonesia..”Harapannya keberadaan PT PGE juga bermanfaat bagi Kabupaten Muara Enim dan masyarakat sekitar perusahaan,” harap Ahmad Yani.

Dalam kesempatan itu, Pimpinan Proyek (Pimpro) PT PGE Lumut Balai Febrianus Erydani menerangkan semenjak pemboran sumur ekplorasi yang di mulai pada 2008, perusahaan sudah melakukan pengeboran sebanyak 3 (tiga) sumur ekplorasi, 19 sumur produksi dan 8 sumur reinjeksi untuk pengembangan PLTP Unit 1 dan 2 ( 2 X 55 MW ), dan 1 sumur ekplorasi untuk pengembangan PLTP Unit 3 dan 4 ( 2 x 55 MW).

“PT PGE menargetkan PLTP Unit 1 segera akan beroperasi komersial di 2019 ini. Sementara PLTP Lumut Balai Unit II  bisa beroperasi komersial pada  2021,” jelas Febrianus.

Terpisah, Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kabupaten Muara Enim Drs Syarpudin Msi melalui Kepala Bidang Energi Sumber Daya Mineral (Kabid ESDM), Ir Edy Irson Msi saat dibincangi Enim Ekspres, Selasa (15/10) mengungkapkan, informasi yang mereka dapatkan memang direncanakan pada September lalu PLTP Lumut Balai I akan dioperasikan secara komersil(commercial on date/COD). “Tapi, informasi tersebut tidak kedengaran lagi, mungkin diundur lagi. Bisa jadi ada persiapan yang masih dilakukan di lapangan sebelum diresmikan oleh pemerintah,” ujar Edy Irson saat dibincang di ruang kerjanya, Selasa (15/10).

Edy Irson menerangkan PT PGE mulai melakukan pengeboran sumur sejak 2008 lalu. Sekarang ini sudah ada tiga sumur sudah diekplorasi, 19 sumur sudah produksi dan 5 sumur injeksi. “Yang direncanakan untuk segera operasi PLTP Lumut Balai Unit I, total nantinya akan ada empat PLTP yang akan dibangun oleh PT PGE yang akan dilakukan secara bertahap,” ucap dia.

Di Kabupaten Muara Enim, selain panas bumi yang dioperasikan PT PGE. Juga ada panas bumi yang sedang digarap oleh pihak swasta PT Supreme Energy di Rantau Dedap, Kecamatan SDU, Kabupaten Muara Enim.

Edy Irson menuturkan energi panas bumi, termasuk energi terbarukan di Indonesia. Di mana energi panas bumi ini, merupakan energi yang ramah lingkungan dan potensinya sangat besar sekali. “Potensi energi panas bumi di Semendo  cukup besar untuk pembangkit listrik. Di mana uap panas bumi berasal dari magma bekas gunung api, seperti halnya gugusan bukit barisan yang ada di kawasan Lumut Balai,” papar Edy Irson.

Rencanakan Awal 2020 Operasi Komersial

            Untuk memastikan kapan PLTP Lumut Balai Unit I  resmi beroperasi komersil, Enim Ekspres mencoba menghubungi Direktur Utama PT Geothermal Energy (PGE)  Ali Mundakir melalui Legal Manager Goverment and Public Relation, Sentot Yulian Nugroho melalui ponselnya, Selasa (15/10). Dia menerangkan bahwa saat ini PLTP Lumut Balai Unit I masih dalam persiapan untuk COD. Proses sekarang ini, masih dalam tahap koordinasi PT PGE dengan Direktur Jenderal ketenagalistrikan, Kementerian Energi Sumber Daya Mineral (ESDM) dan pihak Perusahaan Listrik Negara (PLN). “Persiapan untuk COD masih terus kita lakukan. Paling cepat direncanakan PLTP Lumut Balai Unit I tersebut pada awal 2020 sudah diresmikan untuk operasi komersil,” tutur Sentot.

Bagaimana dengan proses jual beli listrik ke PLN, apakah sudah selesai? Kata Sentot, untuk jual beli listrik ke PLN sudah selesai, sudah ada kesepakatan. “Perjanjian Jual Beli Listrik (PJBL) sudah aman, sudah deal dengan PLN. Yang pasti, PT PGE ingin secepatnya mengoperasikan PLTP Lumut Balai Unit I 1×55 MW tersebut, untuk menyuplai kebutuhan listrik nasional,’ papar dia.

Untuk PLTP yang lain, apakah juga sudah siap untuk operasi? Untuk saat ini, PT PGE masih fokus mempersiapkan PLTP  Lumut Balai I untuk operasi komersil, jika sudah diresmikan. Tentunya baru akan menggarap untuk PLTP Lumut Balai unit II, tapi tahapannya masih lama, masih dalam progres desain lokasi, masih penyiapan dokumen dan lain sebagainya. Masih butuh waktu beberapa tahun lagi. “Secara total di lokasi panas bumi Lumut Balai direncanakan akan ada empat PLTP yang akan dibangun PT PGE di lokasi tersebut,” urai Sentot.

            Sentot menceritakan untuk pembangunan PLTP Lumut Balai memang tidak bisa dalam waktu yang cepat. Selain membutuhkan investasi yang besar, usaha panas bumi  ini banyak tahapan yang dilakukan membutuhkan waktu bertahun-tahun. Mulai dari survei lokasi, pemetaan, melihat potensi panas bumi yang ada, pembangunan PLTP hingga operasi. Proses pengeboran hingga operasi membutuhan waktu yang panjang, bisa sampai 10 tahun. Prosesnya memang membutuhkan waktu yang lama. PT Pertamina mendapatkan penugasan dari pemerintah untuk kuasa pengusahaan panas bumi Lumut Balai sebelum berlakunya Undang-undang panas bumi Nomor 27 tahun 2003. “Oleh PT Pertamina melalui anak usahanya PT PGE baru melakukan pengobaran sumur Lumut Balai pada 2008. Sekarang sudah 10 tahun lebih, baru sampai pada tahapan untuk persiapan operasi komersil yang direncanakan pada awal 2020,” tukas Sentot lagi.

   Sambung Sentot, jika PLTP Lumut Balai unit I sudah resmi beroperasi komersil, tentunya PT PGE tetap membutuhkan dukungan dari pemerintah daerah dan masyarakat, untuk kelancaran penyuplaian energi listrik untuk nasional melalui panas bumi di Lumut Balai.

40 Persen Cadangan Panas Bumi Dunia Ada di Indonesia

            Sentot juga mengakui cadangan panas bumi di Indonesia memang menjanjikan. Sebab cadangan panas bumi dunia, 40 persenya ada di wilayah Indonesia. Total potensi panas bumi di Indonesia yakni 29.215 Gwe. Sumber-sumber tersebut tersebar di 251 lokasi di Sumatera, Jawa, Nusa Tenggara, Maluku hingga ujung Barat Papua.

“Sedangkan panas bumi yang sudah dijadikan pembangkit listrik, Indonesia menempati urutan kedua dunia, setelah Amerika. Amerika sudah menghasilkan pembangkit listrik panas bumi sekitar 3.639 Megawatt (MW) lebih. Indonesia diposisi kedua sudah menghasilkan pembangkit listrik sekitar 1.950 MW, 672 MW diantaranya pembangkit milik PT PGE dan posisi ketiga ada negara Filipina 1.868 MW. Sementara total pembangkit listrik dari panas bumi dunia sudah terpasang 14.602 MW,” tegas Sentot Yulian Nugroho.

Sambung Sentot, saat ini PT PGE memiliki lima wilayah operasi yang sudah menghasilkan pembangkit listrik panas bumi, pertama pembangkit listrik panas bumi di Kamojang, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung, Provinsi Jawa Barat 235 MW. Kedua, di Lahendong Tumohon, Kabupaten Minahasa, provinsi  Sulawesi Utara 120 MW. Ketiga, Ulubelu Lampung, Kabupaten Tanggamus, provinsi Lampung 220 MW. Keempat  Sibayak, Kabupaten Karo, provinsi Sumatera Utara sebesar 12 MW.  Kelima area operasi Karaha, di WKP Tasikmalaya dan Garut, provinsi Jawa Barat 30 MW. Serta yang direncanakan untuk daerah operasi baru PLTP Lumut Balai Desa Penindaian, Kecamatan SDL, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan, yang direncanakan segera operasi 55 MW. Serta beberapa area operasi lain di Indonesia yang masih dalam tahap persiapan, seperti Ululais Kabupaten Lebong, Provinsi Bengkulu, Sungai Penuh, Kabupaten Kerinci Provinsi Jambi. “96 persen kapasitas terpasang PLTP di Indonesia berada di Wilayah Kuasa Penambangan (WKP) PGE yakni 32 own operation dan 64 persen JOC,” beber Sentot lagi.

Ramah Lingkungan dan Energi Berkelanjutan

            Sentot menjelaskan usaha panas bumi (geothermal) masuk kategori ramah lingkungan, inilah salah satu fokus usaha yang sekarang digalakkan Pertamina. Sebab energi panas bumi tidak menghasilkan polusi udara, sementara energi yang lain tentunya ada polusi yang ditimbulkan yakni menghasilkan CO2 (Carbon dioksida). Kemudian, panas bumi salah satu energi paling bersih. Energi panas bumi yang tidak menyebabkan pencemaran, karena limbah yang dihasilkan hanya uap air. Selain itu energi panas bumi juga ramah lingkungan, baik dalam aspek produksi maupun penggunaan. Sehingga dampaknya benar-benar berperan pada setiap sumber daya.

“Kalau usaha energi yang lain menghasilkan polusi, sebaliknya dengan energi panas bumi ini mengurangi polusi, jadi sangat ramah lingkungan,” beber dia. Dia mencontohkan, untuk PLTP 1×55 MW Lumut Balai jika sudah beroperasi, dalam satu tahun bisa mengurangi emisi 280 ton CO2 dalam mengurangi pencemaran udara.

Selanjutnya, energi panas bumi adalah energi terbarukan yang relatif tidak akan habis,   berkelanjutan (Sustainability). Sumber energi ini terus menerus aktif akibat peluruhan radioaktif mineral. Sepanjang bisa menjaga lingkungan yakni kelestarian alam dan menjaga sistem hidrologi. Maka cadangan panas bumi akan tetap ada. Sebab energi panas bumi ini berasal dari magma dibekas gunung api. Kuncinya konsisten menjaga kelestarian alam, maka cadangan panas bumi akan tetap terjaga. Contohnya di Amerika pengelolaan panas buminya sudah 100 tahun, Italia juga sudah 100 tahun. Di indonesia contohnya PLTP di Kamojang Jawa Barat sudah sekitar 36 tahun, awalnya hanya 30 MW, sekarang di Kamojang sudah 235 MW melalui beberapa PLTP. “Kalau energi lain, misalnya batubara cadangannya bisa menurun. Kalau panas bumi sebaliknya, bisa bertambah dan berkelanjutan,” pungkas Sentot Yulian Nugroho.

Seperti diketahui, bahwa tonggak sejarah panas bumi di Indonesia dilakukannya pemboran eksplorasi oleh pemerintah kolonial Belanda pada 1926, dengan sumurnya KMJ 3. Kemudian pada 1983 diresmikannya lapangan Kamojang, sekaligus sebagai cikal bakal pengembangan energi geothermal. Energi geothermal adalah energi yang ramah lingkungan, merupakan sistem yang melibatkan sirkulasi pluida dari daerah meteoridrichad ke daerah sumber panas dan ke dalam reserpoar. Sedangkan uapnya dimanfaatkan untuk menggerakkan turbin, kemudian turbin menggerakkan generator untuk menghasilkan lsitrik.(dang)

Pos terkait