Efek Berganda Industri Hulu Migas

Dukung Pembangunan Daerah, Mandirikan Masyarakat

INFOKITO.ID,MUARA ENIM—-Harus diakui kehadiran industri hulu minyak dan gas (Migas) di Kabupaten Muara Enim memberikan efek ganda (Multiplier Effect) atau bermanfaat bagi sektor lainnya, seperti bidang pembangunan, kesehatan, pendidikan, pemberdayaan masyarakat, lingkungan dan lain sebagainya. Guna mendukung pembangunan daerah disegala bidang dan pergerakan perekonomian masyarakat.

Di Kabupaten Muara Enim, setidaknya ada dua perusahaan atau Kontraktor Kontrak Kerja Sama (KKKS) melakukan kegiatan hulu migas eksplorasi dan produksi migas yaitu PT Pertamina EP dan Pertamina Field Limau, serta PT Medco E&P Blok Lematang. Dua KKS tersebut, tidak sekadar menyediakan pasokan energi dan menghasilkan penerimaan negara, dan pendapatan daerah melalui Dana Bagi Hasil (DBH) migas. Tapi, KKKS juga memiliki tanggung jawab sosial terhadap masyarakat sekitar perusahaan melalui beragam kegiatan tanggung jawab sosial (Corporate Social Responsibility/CSR). Bagi KKKS, kegiatan CSR secara tidak langsung juga berdampak untuk pengamanan aset, dan memperlancar jalannya operasi hulu migas. Serta sebagai bentuk kepedulian perusahaan untuk pemberdayaan masyarakat dan peduli lingkungan. Sesuai Pasal 11 Ayat 3 Undang Undang Nomor 22 Tahun 2011 tentang Minyak dan Gas Bumi, Kontrak Kerja Sama yang menjadi dasar pelaksanaan kegiatan usaha hulu migas oleh Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap, wajib memuat ketentuan-ketentuan yang di antaranya tentang pengembangan masyarakat sekitar dan jaminan hak-hak masyarakat adat. Lebih lanjut, Pasal 40 Ayat 5 Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2001 menyebutkan, Badan Usaha atau Bentuk Usaha Tetap yang melaksanakan kegiatan usaha hulu migas ikut bertanggung jawab dalam mengembangkan lingkungan dan masyarakat setempat. Melalui kegiatan CSR lah, efek berganda industri hulu migas tersebut bisa dirasakan masyarakat.

Bagaimana sesungguhnya peran berganda PT Pertamina EP dan PT Medco dalam ikut mendukung pembangunan Kabupaten Muara Enim dan pemberdayaan masyarakat sekitar perusahaan? Plt Bupati Muara Enim H Juarsah SH melalui Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Muara Enim, H Ramlan Suryadi ST Msi yang juga sekretaris Forum CSR Kabupaten Muara Enim menerangkan sejak dahulu keberadaan PT Pertamina EP dan PT Medco yang beroperasi mencari migas di wilayah Kabupaten Muara Enim sudah banyak memberikan kontribusi yang nyata dalam mendukung pembangunan di Bumi Serasan Sekundang.

“Keberadaan perusahaan hulu migas PT Pertamina dan PT Medco E&P memiliki manfaat ganda untuk kabupaten Muara Enim. Pertama hasil produksi migas, daerah mendapatkan DBH yang sudah diatur oleh negara. Kedua, Muara Enim juga mendapatkan manfaat melalui dukungan CSR untuk pembangunan desa-desa disekitar perusahaan dan memandirikan masyarakat melalui kegiatan pemberdayaan,” ungkap Ramlan Suryadi, kemarin (11/10).

“Dukungan yang diberikan oleh dua perusahaan migas tersebut, baik pembangunan fisik, non fisik dan pemberdayaan masyarakat disekitar wilayah perusahaan beroperasi,”  tambah Ramlan Suryadi.

Ramlan Suryadi mengungkapkan bahwa  pembangunan daerah bukan semata-mata menjadi tugas dan tanggung jawab Pemerintah saja, tapi juga menjadi tugas dan tanggung jawab dunia usaha dan masyarakat. Keterbatasan sumberdaya yang dimiliki Pemerintah, memerlukan adanya kebersamaan dan dukungan dari dunia usaha dan masyarakat yang secara bersinergis melaksanakan pembangunan.

Nah, agar program CSR bisa terarah dan ada sinergisitas dengan Pemkab Muara Enim. Maka pada 2011 lalu, dibentuklah Forum CSR/PKBL Kabupaten Muara Enim, dengan peraturan Bupati Muara Enim Nomor 30 tahun 2011. Di dalamnya tergabung 9 perusahaan BUMN, 60 BUMS, dan 3 BUMD. “Termasuk di dalamnya perusahaan migas PT Pertamina EP dan PT Medco E&P,” tutur Ramlan.

Masih kata Ramlan, mekanisme Pemkab Muara Enim menawarkan program kegiatan  hasil musrenbang setiap tahunnya, yang tidak dapat dibiayi oleh APBD Kabupaten Muara Enim, yang disebut Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Non APBD Muara Enim. Untuk diserap sebagai kegiatan oleh perusahaan-perusahaan yang tergabung dalam forum CSR. “Kegiatannya bisa melalui pembangunan fisik, kegiatan dibidang pendidikan, kesehatan, perekonomian, pemberdayaan masyarakat, bina lingkungan dan kegiatan lainnya di masyarakat lingkup perusahaan,” papar Ramlan.

Berdasarkan daftar pelaksanaan program bantuan CSR/PKBL di forum CSR Muara Enim. Pada 2018 lalu, PT Pertamina EP  Asset 2 (Field Limau, Prabumulih dan Pendopo) dalam laporannya melaksanakan 92 jenis kegiatan CSR/PKBL dengan total anggaran yang disalurkan yakni Rp5.9 miliar lebih. Sementara PT Medco E&P melakukan 185 kegiatan melalui CSR/PKBL dengan realisasi anggaran Rp1 miliar lebih. ”Sebagai bentuk apreasiasi Pemkab Muara Enim terhadap perusahaan yang sudah menyalurkan CSR, untuk mendukung pembangunan Muara Enim dan pemberdayaan masyarakat. Setiap tahunnya Pemkab Muara Enim selalu memberikan penghargaan CSR Award untuk perusahaan yang tergabung di forum CSR. Untuk PT Pertamina Ep dan PT Medco biasanya selalu mendapatkan penghargaan ini, juara di tiga besar,” urai Ramlan Suryadi.

“Dengan banyaknya kegiatan CSR yang dilakukan PT Pertamina EP dan PT Medco, maka secara tidak langsung membawa keuntungan bagi lancarnya pembangunan di Kabupaten Muara Enim dan membantu meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Secara tidak langsung juga menyerap tenaga kerja lokal dan memandirikan masyarakat,” pungkas Ramlan.

Sementara itu sebagai efek berganda kehadiran perusahaan hulu migas, Limau Field Manager PT Pertamina Asset 2, M Nur mengungkapkan bahwa sebagai perusahaan hulu migas, yang bersentuhan langsung dengan masyarakat. Tentunya perusahaan selalu peduli dengan masyarakat sekitar, dengan melaksanakan program-program CSR yang dibutuhkan masyarakat di wilayah perusahaan. “Program –program CSR ini, tujuannya agar masyarakat dapat merasakan keberadaan perusahaan dan mandiri melalui program pemberdayaan,” ungkap M Nur didampingi staf CSR Nurseila disela-sela acara fiel Trif Forum Jurnalis Migas (FJM) Sumsel dan SKK Migas Sumbagsel saat mengunjungi Desa Karya Mulia, Kecamatan Rambang Kapak Tengah (RKT) Kota Prabumulih (2/10) pekan lalu, untuk melihat dari dekat desa binaan pemberdayaan masyarakat  melalui program peningkatan kapasitas dan pemberdayaan Kelompok Wanita Tani (KWT) Desa Karya Mulia.

“Di Desa Karya Mulia ini, ada tujuh KWT dan satu kelompok laki-laki  yang mendapatkan pendampingan dari PT Pertamina Field Limau untuk pengembangan tanaman organik dan sayuran organik. Hasilnya, alhamdulillah, ibu-ibu di desa ini bisa memanfaatkan perkarangan rumah dengan membuat kebun Pertanian dan Toga Organik (Pertaganik),” kata M Nur.

Dia berharap masyarakat di Desa Karya Mulia bisa mandiri. Sebab sayuran yang dihasilkan, selain bisa untuk memenuhi kebutuhan keluarga, lebihnya bisa dijual ke masyarakat sekitar. Sambung M Nur, Limau Field  juga memiliki lokasi kerja hulu migas  di wilayah Kabupaten Muara Enim  di Kecamatan Rambang Niru dan Kecamatan Belimbing. “Untuk di wilayah Muara Enim kita juga memberdayakan masyarakat dengan membuat pertanian organik, seperti di Desa Jemenang, Air Talas dan Cinta Kasih,” jelas M Nur.

M Nur juga menerangkan selain melakukan pemberdayaan masyarakat, program-program CSR PT Pertamina Field Limau juga berkaitan dengan pendidikan, kesehatan, bidang lingkungan dan program lain yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat di sekitar operasi perusahaan.

Maryanah, Ketua Kelompok KWT Karya Lestari Desa Karya Mulia, mengungkapkan keberadaan PT Pertamina Field Limau yang beroperasi di wilayah mereka, memberikan dampak fositif kepada masyarakat. Setidaknya PT Pertamina Field Limau sudah memberdayakan ibu-ibu rumah tangga di Desa Karya Mulia, dalam bidang pertanian organik. Mereka mengucapkan terima kasih kepada PT Pertamina Field Limau yang sudah memberikan pendampingan kepada ibu-ibu di KWT Karya Lestari, bagaimana cara bercocok tanam pertanian organik. “Kelompok tani kita didirikan sejak 2013, dikelompok ini ada 10 orang. Kami bersyukur mendapatkan pendampingan dan pelatihan dari PT Permina Limau. Kami diajari mulai dari mengolah tanah, membuat pupuk organik hingga cara bercocok tanam. Hasilnya, alhamdulillah, sayuran segar-segar, sehat dan bebas bahan kimia,” ucap Maryanah saat dibincangi koran ini.

Kata Maryanah, di KWT Karya Lestari ini, ada 120 macam Tanaman Obat Keluarga (Toga) dan Sayuran Keluarga (Sorga) yang mereka kembangkan secara organik. “Dengan adanya tanaman pertanian organik ini, tentunya sangat membantu kami, terkhusus kaum ibu. Kalau untuk kebutuhan sayur untuk keluarga, kami tak perlu lagi membeli, bahkan sudah bisa menjual ke desa lain. Begitu juga dengan tanaman obat keluarga, kalau sakit-sakit biasa, kami tak perlu ke dokter. Cukup meracik tanaman toga yang ada, sudah bisa menjadi obat,” papar Maryanah.

Dibagian lain,  Manager Of Comunity Rel& Enchancement Indonesia West Asset  PT Medco E7P Indonesia Sumatera Selatan, Bondan Brilianto, menerangkan bahwa kehadiran PT Medco E&P Blok Lematang tidak semata-mata hanya mencari minyak dan gas, tapi juga peduli dengan masyarakat sekitar.  “Inilah yang dinamakan efek berganda, di mana hadirnya industri hulu migas bisa bermanfaat bagi sektor lain,” ungkap Bondan saat dibincangi Enim Ekspres melalui saluran telpon, kemarin.

Salah satu bentuk kepedulian PT Medco kepada masyarakat yakni melalui kegiatan CSR. Hanya CSR yang dilakukan PT Medco lebih mengedepankan program yang berkelanjutan, agar masyarakat bisa mandiri.  Dalam setiap melakukan program PT Medco menggunakan pola SROI (Social Return Of Investment), yang maksudnya program yang akan dilakukan perusahaan untuk masyarakat, dilakukan analisa prospek, setelah dijalankan dilakukan evaluasi kembali, apakah sesuai dengan target atau tidak. “Program yang dilakukan PT Medco juga tidak semata-mata dari bawah. Tapi perusahaan melakukan social maping, melakukan assesment (penilaian) terhadap program yang dilaksanakan. Masyarakat diberikan pelatihan, pendampingan dan monitoring evaluasi untuk mengetahui program yang dilaksanakan tercapai atau tidak,” terang Bondan.

Kemudian, CSR PT Medco juga menggunakan lima prinsip pertama Sustainability (berkelanjutan), kedua ramah lingkungan, ketiga capacity building (meningkatkan kemampuan pengetahuan dan keterampilan), keempat Environment (menimalisir dampak negatif kegiatan) dan kelima bersinergi dengan pemerintah daerah.

Kata Bondan, sebagai contoh program CSR dari PT Medco Lematang yang bisa dirasakan manfaatnya  dalam memberdayakan masyarakat yakni ternak kambing perah Kelompok Tani Sido Maju Desa Bangunsari, Kecamatan Gunung Megang. PT Medco Lematang bekerjasama dengan Universita Sriwijaya untuk pelatihan dan penyuluhan kepada kelompok tani. Kemudian  perusahaan juga mendatangkan tenaga ahli dari Jogjakarta untuk pelatihan dan perawatan kambing. Kelompok tani kita beri bantuan induk kambing, pejantan, kandang kambing, obat-obatan dan tetap ada pendampingan dari PT Medco.

Ada juga kelompok tani lebah madu Karya Maju Bersama Desa Aur Duri Kecamatan Rambang Niru. Kepada kelompok tani, PT Medco Lematang melakukan pelatihan persiapan dan perawatan madu cerana dari madu pramuka. Kemudian studi banding ke lulut Klaten Jawa Tengah untuk belajar ternak madu. “PT Medco memberikan pendampingan, sarana prasarana, fasilitas, dukungan marketing, diajak pameran dan pengembangan usaha,” jelas Bondan.

Program lain dari PT Medco Lematang dalam memberdayakan masyarakat adalah membentuk kelompok wanita penjahit juga di Desa Bangunsari Kecamatan Gunung Megang, yang berjumlah 10 orang. Program ini merupakan singkron dengan program pemerintah desa. Di mana PT Medco bekerjasama dengan Balai Latihan Kerja (BLK) Muara Enim, untuk mengadakan pelatihan menjahit tingkat dasar pada 2017 dan  2018 diadakan kembali pelatihan lanjutan menjahit. Baru dibentuklah kelompok sari busana. Bentuk dukungan yang diberikan selain pelatihan kursus, bantuan sarana mesin bordir, mesin jahit, dukungan pemasaran dan keterlibatan anggota dalam kegiatan PT Medco Lematang. “Sekarang, untuk kelompok tani kambing sudah berkembang biak, lebah madu sudah menghasilkan dan kelompok menjahit sudah mendapatkan order jahitan baju SD. Ini semua dilakukan PT Medco agar masyarakat bisa mandiri dan mendapatkan manfaat dari hadirnya perusahaan di wilayah mereka,” pungkas Bondan sembari mengatakan banyak juga program-program lain yang dilakukan PT Medco melalui berbagai kegiatan disekitar perusahaan.

Terpisah, sebagai penerima manfaat dari PT Medco Lematang,  perwakilan kelompok tani ternak kambing perah Kelompok Tani Sido Maju Desa Bangunsari, Kecamatan Gunung Megang, Daryono mengaku bersyukur pihaknya mendapatkan pemberdayaan dari PT Medco Lematang. Mereka mendapatkan bantuan 10 ekor kambing dengan dua pejantan dan delapan indukan. “Kita diajari bagaimana cara beternak kambing perah yang baik, melalui pelatihan. Sekarang kambing yang ada sudah berkembang biak, jumlahnya sudah 23 ekor. Semoga kedepan ternak kambing ini semakin berkembang dan kami masyarakat bisa mandiri,” tukas Daryono ketika dibincangi koran ini melalui telpon.

Hal yang sama juga diungkapkan oleh Bustam, perwakilan kelompok tani lebah madu Desa Aur Duri, Kecamatan Rambang Niru.  Juga mengaku senang mereka sudah mendapatkan binaan dari PT Medco Lematang sejak 2016 lalu. Mulai dari pelatihan hingga cara beternak madu di dalam kotak. Sekarang ini hasilnya sudah mereka rasakan. Dalam setahun bisa tiga kali panen madu, dan mereka pernah panen madu satu ton dalam setahun. “Harga cukup lumayan Rp110 ribu per kg. Madu hasil panen kami jual ke masyarakat, sering juga dibeli PT Medco untuk souvenir dan kami sering diajak pameran jika PT Medco ada kegiatan. Kami mengucapkan terima kasih PT Medco sudah peduli dengan memandirikan masyarakat sekitar perusahaan,” ucap Bustam.(geng)

 

 

 

 

Pos terkait